Pages

Moremegmaour ^^

If You Can Dream It! You Can Do It!

Meg's Journal

There Is No Imposibble because imposibble is nothing

Anything Is Possible Megs ^^

Allah Est Les Plus Grand

Life is Adventure

Never Give Up, Stay Positived, Stay Strong

Never Give Up On Your Dreams Megs

Thought Becomes Things ^^

Selasa, 31 Desember 2013

Magical Quotes ^^

Totalitas dalam bekerja, rezeki akan datang menghampiri. Totalitas dalam berkarya, prestasi akan datang mendekati. Totalitas dalam belajar, ilmu pasti lebih mudah tergapai. Totalitas dalam beribadah, bahagianya akhirat semoga akan kita raih.

by : Ahmad Rif'ai Rifan

lirik lagu Flying without wings

"Flying Without Wings"


[Shane:]
Everybody's looking for a something
One thing that makes it all complete
You'll find it in the strangest places
Places you never knew it could be

Some find it in the face of their children
Some find it in their lover's eyes
Who can deny the joy it brings
When you've found that special thing
You're flying without wings

[Mark:]
Some find it sharing every morning
Some in their solitary lives
You'll find it in the words of others
A simple line can make you laugh or cry

You'll find it in the deepest friendship
The kind you cherish all your life
And when you know how much it means
You've found that special thing
You're flying without wings

So, impossible as it may seem
You've got to fight for every dream
‘Cause who's to know which one you let go
Would have made you complete

[Shane:]
Well, for me it's waking up beside you
To watch the sunrise on your face
To know that I can say I love you
At any given time or place

[Mark:]
It's little things that only I know
Those are the things that make you mine
And it's like flying without wings
‘Cause you're my special thing
I'm flying without wings

[Shane:]
And you're the place my life begins
And you'll be where it ends

[Mark:]
I'm flying without wings
And that's the joy you bring
I'm flying without wings

Minggu, 24 November 2013

Waltz Blue Danube

Buku berjudul 99 Cahaya Langit di Eropa lah yang  menginspirasi untuk mencari tau lagu klasik berjudul Waltz The Blue Danube.
"Aku baru sadar inilah sungai yang terkenal itu. Donau atau Danube. Sungai yang menginspirasi Johan Strauss yang menciptakan Lagu Waltz Blue Danube. Simfono abadi musik klasik itu ternyata berawal dari sungai bening dihadapanku kali itu. Lagu itu benar - benar menggambarkan aliran sungai yang menginspirasinya. Airnya terkadang tenang, terkadang bercipratan.Persis permaainan partitur waltz The Blue Danube yang kadang bergerak lembut legato dan berlompatann staccato"
Kalimat -kalimat didalam buku itulah yang seketika menggerakkan rasa penasaran Saya untuk mengetahui sepert apa jenis lagu klasik yang legendaris tersebut. Jujur saja pengetahuan Saya tentang Genre musik masih minim.
Danube
Danube at the night

Senin, 18 November 2013

Croissant

Croissant, merupakan salah satu Kue kenamaan asal Perancis, dinamakan demikian karena bentuknya menyerupai bulan sabit. Jangka waktu pembuatannya menurut tata cara mula-mulanya dapat memakan waktu beberapa hari. Sehingga perlu tingkat kesabaran yang tinggi.Dewasa ini Kue Croissant tidak saja menjadi menu sarapan warga Perancis tetapi sudah menyebar ke banyak negara di Eropa.

Selasa, 29 Oktober 2013

Surat Terbuka Untuk Presiden SBY

18 Juni 2013
surat sbydakwatuna.com – Pak Presiden yang baik, Mari kita berbicara jujur tentang kenaikan
harga minyak, kami mungkin tidak pandai
berhitung: Bagaimana sebenarnya harga
minyak ditentukan? Bagaimana neraca
perekonomian nasional diperlakukan? Atau
pertimbangan apa yang dipakai sehingga satu-satunya pilihan untuk
‘menyelamatkan seluruh bangsa’ harus
sama dan dengan menaikkan harga-harga?
Bagi kami, angka-angka selalu terdengar
sebagai ilusi belaka, Pak. Setiap hari kami
mendengar satuan ‘miliar’ atau ‘triliun’ disebutkan dalam berita-berita,
tanpa pernah benar-benar melihatnya dalam
bentuk yang sesungguhnya—ap alagi menghitungnya satu per satu. Hidup kami sederhana, disambung lembaran-
lembar an uang recehan. Ilmu hitung kami kelas rendahan: berapa untuk makan sehari-
hari, uang jajan anak sekolah, biaya
transportasi, biaya listrik bulanan, dan
kadang-kadang cicilan motor, dispenser atau
DVD player. Tak perlu kalkulator. Bila sedang
beruntung, kami bisa punya sisa uang untuk jalan-jalan di akhir pekan. Bila sedang sulit,
kami tidak ke mana-mana, Pak: Kami mencari
kebahagiaan gratisan di televisi—meski
kadang-kadang justru dibuat pusing dengan
berita-berita tentang beberapa anak buah
Bapak yang korupsi. Tahukah Bapak, dalam televisi, juga koran-
koran dan majalah: kami seperti tak punya
presiden! Kami seperti tak punya pemimpin!
Negara ini terlanjur dikuasai para bandit, Pak! Ah, mungkinkah Bapak tak sempat menonton
TV atau membaca koran sehingga Bapak tak
mengetahuinya? Tapi, ke mana saja sih
Bapak selama ini? Mengapa hanya muncul
untuk bernyanyi, mengucapkan
belasungkawa, atau membacakan pidato- pidato bernada lemah yang berisi kabar
buruk, permohonan maaf, dan keprihatinan? Kami, rakyat biasa, sesekali butuh kabar
gembira, Pak! Kadang-kadang kami berkhayal
bahwa jangan-jangan kami sedang hidup
dalam sinetron? Mungkinkah yang berpidato
di televisi itu bukan Bapak—tapi kembaran
Bapak yang menyamar atau tertukar? Mungkinkah kepala Bapak terbentur batu
dan lantas hilang ingatan? Tetapi, tentu saja
itu bukan kabar gembira. Pak Presiden yang baik, Kelak bila harga BBM naik, dengan gagah dan
baik hati konon Bapak akan memberi kami
kompensasi: Bapak akan membuat kami
mengantre untuk mendapatkan uang
bantuan agar kami tak merasa kesulitan.
Tapi, pikiran kami sederhana saja, Pak, benarkah Bapak suka melihat kami
mengantre, panjang mengular dari Sabang
sampai Merauke? Kami tidak suka itu, Pak.
Kami tak suka terlihat miskin, apalagi menjadi
miskin. Kalau memang Bapak punya uang
untuk dibagikan kepada kami, pakailah uang itu, kami rela meminjamkannya untuk
menyelamatkan ‘perekonomian nasional’
yang konon sedang gawat itu. Tak perlu
naikkan BBM, pakailah uang kami itu: kami
rela meminjamkannya untuk menyelamatkan
bangsa! Keluarga kami yang seorang petani dengan
kerbau tak mungkin lagi bersaing dengan
mesin-mesin yang membutuhkan bensin dan
solar untuk berladang, kekuatan pangan jadi
hambatan kekuatan ekonomi Negara menjadi
terhambat akibat biaya pertanian yang mahal dan mereka pun gulung tikar beralih
menjadi budak perusahaan, makan dengan
mie instan Dan menjual lahan pertanian apa
itu yang bapak inginkan? Bila perlu, berdirilah di hadapan kami,
katakan apa yang negara perlukan dari kami
untuk menyelamatkan kegawatan bencana
ekonomi negara ini? Bila Bapak perlu uang,
kami akan menjual ayam, sapi, mesin jahit,
jam tangan, atau apa saja agar terkumpul sejumlah uang untuk melakukan
pembangunan dan penyelamatan
perekonomian bangsa. Bila Bapak disandra
mafia, pejabat-pejabat yang ** SENSOR **, atau pengusaha-pengu saha yang menghisap rakyat, tolong beritahu kami:
siapa saja mereka? Kami akan bersatu untuk
membantumu melenyapkan mereka. Tentu
saja, semoga Anda bukan salah satu bagian
dari mereka! Pak Presiden yang baik, Berapa banyak perusahaan yang ada di
negara ini pak? Apakah kami akan selalu
bapak jadikan sebagai pengemis recehan
dibalik keuntungan mereka yang meraup
keuntungan besar dari Negara ini? Apakah
bapak tidak berani menaikkan pajak bagi perusahaan-peru sahaan asing tersebut? Dengan alasan perusahaan yang menikmati
untung dari BBM yang murah kenapa tidak
tergantikan dengan pajak yang mereka
bayarkan? Apakah bapak lupa untuk melirik
mereka? Atau bapak takut dengan mereka. Dengarkanlah kami, berdirilah untuk kami,
berbicaralah atas nama kami, belalah kami:
maka kami akan selalu ada, berdiri, bahkan
berlari mengorbankan apa saja untuk
membelamu. Berhentilah berdiri dan
berbicara atas nama sejumlah pihak— membela kepentingan-kep entingan golongan. Berhentilah jadi bagian dari
mereka yang akan kami benci sampai mati.
Jangan jadi penakut, Pak Presiden, jangan
jadi pengecut! lupakan bisikan-bisikan
penjilat di sekelilingmu! Lalu dengarkanlah
suara kami, tataplah mata kami: tidak pernah ada satu pun pemimpin di atas dunia yang
sanggup bertahan dalam kekuasaannya jika
ia terus-menerus menulikan dirinya dari
suara-suara rakyatnya! Pak presiden, Kami tidak ingin jadi pengemis dengan
bantuan yang bapak berikan dari
penambahan utang Negara, yang hanya
menambah beban Negara. Bank dunia, Bank
asia yang memberikan subsidi kepada kami
dari pinjaman Negara akan menjadikan anak cucu kami semakin menderita, Pak Presiden, Sekali lagi, tentang kenaikan harga minyak,
barangkali kami memang tak pandai
berhitung. Tapi, sungguh, kami tak perlu
menghitung apapun untuk memutuskan
mencintai atau membenci sesuatu; termasuk
mencintai atau membencimu! Salam Rakyat Indonesia (mari kita kirimkan ke Presiden dan seluruh
rakyat Indonesia). (sbb/ dakwatuna.com)

" Copy dari google tapi pengen diabadiin aja "